Selasa, 05 Mei 2020

MENULIS BUKU DI PENERBIT MAYOR


OLEH : ENI SETYOWATI, S.Pd.

(Disarikan dari Materi24 KuliahBelajar Menulis Online Gelombang 8)
Nara Sumber : Drs. UKIM KOMARUDIN,M.Pd.
https://www.kompasiana.com/ukimkomarudin
Senin, 4 Mei  2020

Sekilas Profil Narasumber

Drs. Ukim Komarudin adalah seorang penulis buku-buku bestseller di penerbit mayor.

Senin,tanggal 4 Mei 2020, sekitar pukul 11.45, Om Jay  meminta ijin sekaligus memberitahu bahwa WAG akan ditutup sementara untuk fokus mengikuti perkuliahan materi ke 24 yang akan disampaikan oleh narasumber Drs. Ukim Komarudin, M.Pd. Tema yang disampaikan hari ini yaitu tentang “ Pengalaman Menulis Buku di Penerbit Mayor “
Pukul 13.00 kurang beberapa menit ,Om Jay mengirim sebuah file PPT berisi point-point penting dari materi Drs. Ukim Komarudin,M.Pd. Adapun ini isi dari PPT Drs. Ukim dalam PPT yaitu sebagai berikut :
Ø  Pengalaman beliau menulis buku di penerbit mayor yaitu banyak buku-bukunya yang di terbitkan penerbit mayor diantaranya buku-buku pelajaran untuk jenjang SD, SMP,SMA/SMK,buku materi untuk perguruan tinggi ( Landasan Pendidikan, dll), buku harian yang dibukukan ( Guru Juga Manusia, Arif Rahman Guru, dll), buku-buku hasil diskusi ( Metaphorma , dll), dan sebagainya.
Ø  Dalam proses pembuatan buku ada pihak –pihak yang terkait atau disebut tim pembuat buku yang terdiri dari penulis, editor, desainer, illustrator, layouter, yang mana masing-masing tim tersebut mempunyai kebutuhan / kepentingan masing-masing terhadap terbitnya sebuah buku.
Ø  Naskah adalah hasil karya yang menjadi tanggung jawab penulis dalam penerbitan sebuah buku. Seluruh kebutuhan naskah (gambar, foto, infografis, dll.) diatur oleh editor sebagai pengawal naskah, dan dibantu oleh desainer, ilustrator, serta layouter untuk menyelesaikannya.
Ø  Naskah dapat dikirimkan melalui pos atau diantar langsung ke alamat Penerbit dengan mencantumkan genre tulisan pada amplop.
Ø  Alur Pembuatan Buku :
1)    Penulis menyusun naskah lalu mengirimnya ke penerbit
2)    Editor menyaring naskah.
3)    Penulis melengkapi data administrasi & kontrak.
4)    Editor mengawal naskah:
5)    Proses koreksi
6)    Penambahan ilustrasi
7)    Pembuatan sampul
8)    Naskah ditata letak sesuai kebutuhan cetak.
9)    Proses cetak
10) Distribusi

Ø  Detail Tugas Tim Editorial :
1)   Editor :
-       Mencari & menyeleksi naskah/penulis.
-       Mengawal naskah mentah hingga menjadi buku.
-       Melengkapi data administrasi penerbitan naskah.
-       Mencari gambar untuk melengkapi isi buku jika diperlukan.
-       Mengoordinasikan kebutuhan ilustrasi dan foto kepada desainer dan ilustrator.
-       Bekerja sama dengan layouter untuk rancangan tata letak dan perubahan konten seiring koreksi.
-       Membantu proses promosi buku.
2) Desainer :
-       Membuat sampul buku yang sesuai dengan isi buku dan menarik perhatian pembaca
-       Berkoordinasi dengan editor untuk kebutuhan desain seperti templat naskah, foto, infografis, dsb.
-       Membuat alat promosi penerbitan untuk buku seperti flyer, brosur, dan lain-lain.
3) Ilustrator :
-   Membuat gambar sesuai dengan kebutuhan isi buku
-   Gambar harus bagus dan menarik
4) Layouter :
- Menyatukan tulisan dan gambar dalam halaman buku sehingga
  enak untuk dibaca.
- Berkoordinasi dengan editor untuk setiap koreksi dan perubahan-
  perubahannya
- Menyiapkan segala kebutuhan berkas-berkas digital yang
  diperlukan oleh bagian percetakan
Ø  Cara Menjadi Penulis :
-       Mulailah Menulis
Pilih tema tulisan dan cara Anda akan memaparkannya.
-       Rajinlah Membaca
Pertajam wawasan dan penguasaan materi Anda, termasuk teknik penulisan.
-       Terus Motivasi Diri
Yakinkan diri Anda untuk mampu menyelesaikan tulisan Anda.
-       Selesaikan Tulisan Anda
Rapikan karya Anda agar siap untuk diulas oleh penerbit dan diterbitkan.
Ø  Kriteria Naskah :
-       Naskah harus merupakan karya asli
-       Belum pernah dipublikasikan penerbit lain
-       Memiliki jalan cerita yang menarik
-       Naskah ditulis dengan rapi (logis dan sistematis)
-       Memiliki peluang pasar yang baik
-       Tidak menimbulkan kontroversi, terutama berhubungan dengan moral dan agama
-       Tidak merupakan karya plagiat
-       Lengkapi dengan synopsis
-       Sertakan kelebihan dan kekurangan naskah yang Anda miliki dibandingkan dengan buku-buku bertema serupa yang sudah beredar di pasar.
Ø  Prosedur Pengiriman Naskah
-       Jika naskah telah memenuhi kriteria di atas. Kirimkan naskah Anda dengan prosedur (lengkap) berupa print out atau dalam bentuk CD ke: Departemen Editorial Penerbit. Sertakan informasi sebagai berikut:
Surat pengantar ,CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap, nomor telepon, dan alamat email yang dapat dihubungi.
-       Jika dalam waktu 3 bulan tidak ada konfirmasi dari pihak Penerbit, maka naskah tersebut tidak lolos seleksi penerbitan. Apabila naskah layak terbit, penerbit akan memberikan kabar via surat dan telepon, dan dilanjutkan dengan pengajuan pembayaran
Ø  Kondisi Naskah yang Prima :
-       Ide Orisinil
-       Materi dapat dipertanggungjawabkan, bukan plagiat.
-       Tulisan Siap Baca
-       Komprehensif, alur tulisan baik, bahasa mudah dipahami target pembaca yang dipilih, EYD sempurna.
-       Penting & Perlu
-       Informasi yang disajikan up to date dan berguna
-       Lengkap dan Jelas
-       Sudah diketik komputer, dilengkapi print out, sinopsis, foto/ilustrasi orisinil, dan proposal target pembaca
Ø  Mengapa Suatu Naskah Ditolak?
-       Kurang nilai ekonomisnya
-       Materi/Judul tidak sesuai dengan fokus bisnis Penerbit
-       Sudah ada buku sejenis di Penerbit
-       Penulis tampak kurang menguasai materi
-       Penulis tampak tidak mampu menuangkan idenya dengan  baik, sekalipun penulis menguasai materi.
-       Penuhnya kapasitas produksi Penerbit (masuk dalam penundaan terbit)
Ø  Sistem Kerja Sama
-       Royalti
-       Besaran royalti 6-10%, sangat bergantung dari naskah.
-       (materi, luas pasar, juga kredibilitas penulis).
-       Dibayar setiap 6 bulan sekali
-       setelah buku terbit.
-       Pembelian Naskah
-       Naskah juga dimungkinkan untuk dibeli dengan sistem beli putus, dengan perlakuan khusus.

Banyak contoh buku-buku karya beliau , yang diterbitkan oleh penerbit mayor, berskala nasional. Semoga dapat menginspirasi kita semua agar dapat mengikuti jejak beliau untuk menerbitkan buku-buku berkualitas dan diminati banyak orang.
Berbagi pengalaman menulis
Selanjutnya Drs. Ukim memaparkan materi tentang pengalamannya menulis dan menerbitkan buku di penerbit mayor diwarnai dengan berbagai pertanyaan dari para peserta kuliah Belajar Menulis Online yang dapat dirangkum sebagai berikut ini :
Ø  Pertama, saya berpikir, menulis merupakan ekspresi pribadi saya. Oleh karena itu, saya merasa sangat penting agar saya memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. Lalu saya menemukan menulis adalah sarana yang tepat buat saya. Saya tak pernah merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan saya. Saya juga tidak perduli  dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis. Menulis adalah kebutuhan. Saya merasa menemukan lebih tentang "saya" dengan menulis. Demikian hal itu terus berjalan hingga jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang. Demikianlah saya menulis dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya.
Ø  Selain menulis apa adanya, saya pun menulis apa saja. Karena saya guru, saya menulis terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian. Begitu setiap saat diisi oleh menulis.
Ø  Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman berkomentar bahwa tulisan saya bagus. Istilah mereka, tulisan saya emotif. Kata mereka juga, tulisan saya dapat membuat pembaca larut dalam cerita. Ada juga yang mengatakan bahwa bahasa saya sederhana dan mudah dicerna oleh pembaca. Ada juga yang mengaku bahwa sepenggaltulisan saya dapat dijadikan ceramah atau kultum, dsb.
Ø  Karena komentar tersebut, saya mencoba membukukan tulisan-tulisan saya yang selama ini merekam semua kejadian karena saya memang senang membuat buku harian. Ada beragam kejadian, tetapi tema besarnya, yang saya tuliskan merupakan pelajaran seorang dewasa (guru) dari anak-anak "cerdas" yang menjadi siswanya. Oleh karena tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh, maka saya menuliskan judul buku tersebut, "Menghimpun yang Berserak." Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi saya, dan semoga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).
Ø  Demikianlah waktu itu, saya yang kebetulan menjadi penanggung jawab penerbitan buku di sekolah menyisipkan karya pribadi, selain karya bersama (berlima) menulis dan berupaya buku mata pelajaran.
Ø  Saya diinterview terkait dua bagian buku. Pertama, buku bersama yakni buku mata pelajaran. Kedua, buku pribadi saya, "Menghimpun yang Berserak." Dalam kesempatan interview itulah saya banyak mendapatkan pengetahuan terkait tips dan trik menerbitkan buku.
Ø  Saya banyak mendapatkan pelajaran menyangkut hal-hal yang tadinya tidak saya pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya, membuat saya tidak nyaman karena menabrak prinsip menulis saya. Umpamanya, "Apakah ketika  saya menulis buku"menghimpun yang Berserak" ini sudah memperkirakan akan laku di pasaran?" Kalau sudah ada,  apakah buku saya punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku saya? Untuk kepentingan pasar, "Apakah saya bersedia apabila beberapa hal terjadi penyesuaian (diganti)? dst. Terus terang, saya merasa kurang nyaman dengan interview itu. Saya merasa diam-diam mulai "dipenjara". Inikan ekspresi pribadi saya, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi? Menyebalkan! Begitu, oleh-oleh pulang dari interview.
Ø  Saya yang tersadar mendapatkan ilmu pengetahuan lebi ketika beliau menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya saya dapat dinikmati orang banyak. Beliau menjelaskan bahwa yang menanyai saya itu mungkin editor. sebab, beliaulah garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Menurut teman saya itu, naskah saya sepertinya  punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan. Tetapi sebagai pemula, karya saya memang harus dipoles di sana sini.
Ø  Saya yang tersadar mendapatkan ilmu pengetahuan lebi ketika beliau menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya saya dapat dinikmati orang banyak. Beliau menjelaskan bahwa yang menanyai saya itu mungkin editor. sebab, beliaulah garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Menurut teman saya itu, naskah saya sepertinya  punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan. Tetapi sebagai pemula, karya saya memang harus dipoles di sana sini.
Ø  Jika nanti naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya merupakan tim saya. Kasarnya, semuanya akan menyukseskan saya, begitu teman saya meyakinkan saya.
Ø  Oleh-oleh itulah yang menyebabkan saya menindaklanjuti pertemuan dengan penerbit. Selain hal-hal yang umum tentang buku mata pelajaran yang ditulis bersama, saya mengkhususkan pikiran ke buku "Menghimpun yang berserak". Yang menenangkan, editor menceritakan bahwa semua hal menangkut buku saya selalu dalam konfirmasi. Artinya, semuanya akan terjadi jika saya setuju.
Ø  Demikianlah saya menjelani proses, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak,  yang sangat penting dalam proses kreatif saya, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Saya gembira sekali menerima buku dami itu. Terus terang saking gembiranya, saya menandatangi saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi karena memang saya menulis bukan untuk hal tersebut.
Ø  Akhirnya, saya mendapat konfirmasi ketika saya dapat kabar bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya buku saya. Pertama, saya menerima buku pribadi, kalau tidak salah jumlahnya hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjual belikan. Kedua, saya diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang Berserak". Ini soal bagaimana membuat buku saya laku. Saat itu saya sangat bodoh dan kurang dapat memberikan masukan hyang berarti. Ketiga, saya diberitahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian saya baru akan mendapat royaltinya. Untuk tersebut juga saya tidak pandai memberi masukan.
Ø  Peran saya kemudian adalah mengusahakan buku saya dapat dinikmati orang lain. Kala itu agak sulit karena media sosial belum sedasyat sekarang. kebetulan saya pembicara, saya berupaya menjual buku-buku saya pada kesempatan bicara tersebut.
Ø  Ada beberapa kejadian menerbitkan buku kembali, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga yang menjelang terakhir buku, "Arief Rachman Guru". Semuanya mirip-mirip pengalaman dengan penerbit. Kurang lebih, seperti itulahkira-kira. mohon maaf apabila kurang lengkap. semoga dapat dilengkapi ketika nanti tanya jawab.
Adapun pertanyaan –pertanyaan dari para peserta dan jawaban Drs. Ukim dirangkum sebagai berikut :
Ø  Kriteria layak atau tidaknya sebuah buku dapat di terbitkan oleh penerbit , harus memenuhi kriteria yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata pelajaran, biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru; (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca); 
Ø  Untuk buku / naskah kita yang sudah masuk ke penerbit , kita tunggu smpai kurang lebih 6 bulan, jika 6 bulan tidak ada kabar / ditolak maka sebaiknay kita segera pindah ke penerbit lain dan naskah harus direvisi.
Ø  Buku kita bisa laku dipasaran karena bantuan publikasi di media sosial . Drs. Ukim mengatakan , Saya tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada yang saya terbitkan. Saya memang bukan tipe pandai menjual ide. Saya senang menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak peduli tak dilirik penerbit. Tapi Allah Maha Pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi berkah buat keluarga.
Ø  Yang interview dari dulu sampai kini sudah saya tahu. Pasti dia editor. Dialah penentunya. Saya sering berdoa, dan ternyata sering benar, "Dia lebih pintar dari saya". Minimal soal membuat buku saya laku di pasaran.
Ø  Semua buku berkesan. Dia seperti anak saya. Dia ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya. Semuanya saya syukuri. Ia lahir dari saya, saya bangga atas rezekinya.
Ø  Ketika bertemu penerbit saya sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai bicara.Saya sering diminta menulis terus oleh beberapa penerbit karena beberapa buku saya yang dipergunakan di lembaga pendidikan terbit terus. Mungkin sekarang sudah jilid  belasan. Masalahnya di pembagian waktu atau prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi saya kurang bisa kompromi. Tapi percayalah, bahwa dari karya yang sungguh-sungguh akan ada tawaran berikutnya dari penerbit.
Ø  Saya termasuk orang yang nggak mau belajar tentang gaya selingkung. Kalau harus belajar tentang gaya selingkung bisa terkuras energi kita jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, saya menulis untuk diri saya. Jadi, ketika itu jadi duit, alhamdulillah. Lalu, saya tak mendapat konfirmasi sekaligus royalti, padahal di belakang saya mereka menerbitkan dan menjual buku saya. Silakan. Makan tuh rezeki saya semoga jadi amal yang dipakai kebaikan. Saya kurang suka dengan hal-hal yang diluar jangkauan saya.
Ø  Bagaimana cara menulis sesuatu yang sering gagal,agar tidak patah semangat? Kita harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan diri kita.  Ada penulis tipe sprinter, maka pilihlah  cerpen. Kalau Marathon, pilih novel. Menulis itu secara bertahap . dari hal-hal yang ringan. Ang sedrhana saja dulu, nanti lama kelamaan akan terbiasa dengan menulis yang lebih panjang, lebih lengkap, dan seterusnya
Ø  Dalam dunia kepenulisan ada yang istilah  Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat akan memulai dari itu. Percayalah, jika tidak memulai dari situ, kemungkinannya akan kalah tenaga, atau ngawur kemana-mana.
Ø  Saya tipe orang yang sering menyembunyikan karangan jika belum final. Saya orang teater. Saya suka membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita. termasuk di sini kelahiran anak (karya) saya yang mengejutkan.
Ø  Penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya Ambyar. Maka dari itu agar buku kita cepa jadi , tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor. Jika mereka menganggap tulisan nggak laku di pasaran, tidak apa-apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari dan dibenarkan orang.
Ø  Maka membaca yang banyak dan siapa penulis buku yang kita suka. Hebatnya, Tuhan Maha Kreatif dan Penyayang. Kita akan tumbuh menjadi diri sendiri . walaupun terinspirasi dan termotivasi itu boleh saja, tidak apa-apa .
Ø  Menjadi penulis harus berani, mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya seperti buku yang akan kita buat.  Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi.
Ø  Cara menumbuhkan rasa percaya diri seorang penulis yaitu bahwa  penulis yang baik memang pembaca yang baik. Banyak-banyaklah membaca sehingga akan mampu menulis. Saya setuju  dengan himbauan menulislah setiap hari. Tapi tolong disertai membaca agar tulisan kita berkualitas.  Itu hukumnya. Menulis (produktif) pasokannya adalah membaca (receptif).
Ø  Untuk dapat menulis dengan baik yaitu pada akhirnya kita akan menjadi diri kita sendiri. Termasuk dalam hal karya. Dari situ kiat akan  menemukan warna, tipe, dan kekuatan sendiri dalam menulis.
Ø  Sebagai penutup Drs. Ukim memberikan email ukimlabs@gmail.com, agar bagi yang ingin menanyakan sesuatu atau sharing dan berbagi pengalaman dapat melalui alamat tersebut. 
Penutup dari Drs. Ukim yaitu bahwa : ada kehebatan dari seorang penulis. Ia jelas ekspresinya. Ia juga punya daya jangkau dakwah yang lebih luas dalam menebar kebaikan. Ia juga punya legacy atau warisan untuk meninggalkan  jejak kebaikannya, yakni tulisannya. Menulislah, setiap hari karena Anda akan menemukan kebahagiaan. Menulis berarti kita MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN.

GUNUNGKIDUL, SENIN, 4 MEI 2020


***

1 komentar:

BUNGA RENGGANIS, MANIS

  BUNGA RENGGANIS, MANIS oleh : Enis Bunga rengganis ?? Apakah betul tanaman ini namanya bunga rengganis? Nama rengganis dari tanaman ini di...